gambar kedatuan luwu ware terakhirResensi Buku :

Judul Buku : Ensiklopedi Sejarah Luwu
Penyusun : Idwar Anwar
Penerbit : Komunitas Kampung Sawerigading (KAMPUS)
Cetakan : I, Januari 2005
Tebal : xiii + 656 halaman

Luwu; Jejak Sejarah Nusantara yang Terlupakan

Berbicara mengenai Sulawesi Selatan khususnya, maka sulit untuk tidak mengenang kerajaan Luwu dan tokoh-tokohnya. Sebab dari sinilah, lahir propinsi Sulawesi Selatan kelak. Bahkan termasuk beberapa daerah yang kini tidak berada dalam wilayah Sul-Sel (Luwu), di zaman dahulu termasuk wilayah Sulawesi Selatan (Luwu). 

Demikianlah kenyataan sejarah yang melansir bahwa cikal bakal Sulawesi Selatan dan perdaban manusia bermula dari mitologi masyarakat tentang La Tongeq Langiq atau yang lebih dikenal dengan nama Batara Guru yang diturunkan ke Dunia Tengah tepatnya di Wotu Kab. Luwu Timur. Benar atau tidak, hal ini telah terintegrasikan dalam konsepsi masyarakat pendukungnya. Termasuk tata cara pemerintahan hadat wotu yang sudah menyerupakan sebuah negara (Kingdom).

Kerajaan Luwu dikenal sebagai kerajaan tertua di Sulawesi Selatan, bahkan di Indonesia Timur. Tokoh Batara Guru sendiri yang dikenal sebagai manusia pertama dalam wilayah kesadaran manusia Bugis diinformasikan melalui Sureq Galigo. Ia dturunkan dari Boting langiq untuk menyemarakkan Ale Kawaq (bumi) yang masih kosong.

Mitologi Galigo di kalangan masyarakat Bugis sampai saat ini masih dianggap sebagai sebuah kebenaran –meski terus menerus mengalami reduksi—bahkan sesuatu yang sakral. Karena kesakralannya ini, ia dijadikan sebagai kitab suci kedua setelah al-Qur’an. Mereka meyakini bahwa di dalamnya ada sebuah kekuatan yang tersimpan.

Begitu fantastis dan agungnya sejarah kebudayaan Luwu di masa lalu, telah memberikan justifikasi kemajuan peradaban masyarakat Luwu yang telah melampaui batas-batas nalar kita. Menjadi soal kemudian adalah, sejauh mana pengetahuan masyarakat Sulawesi Selatan dan Luwu khususnya tentang sejarah mereka sendiri?

Jika merujuk pada sejarah, Luwu dapat dikatakan sebagai sebuah kerajaan tertua, khususnya Sulawesi Selatan. Dan sebagai kerajaan tertua, tentunya Luwu banyak menyimpan berbagai catatan sejarah yang panjang. Sureq Galigo yang merupakan karya sastra terpanjang di dunia adalah salah satu bukti nyata dari perjalanan panjang sejarah Luwu dengan beberapa tokohnya yang telah membangun kerajaan Luwu, bahkan memberi warna pada beberapa kerajaan/ wilayah yang ada di nusantara.

Luwu sebagai sebuah wilayah yang otonom (kerajaan), sejak periode Galigo hingga Lontaraq, telah berperan penting dalam membangun tatanan masyarakat di beberapa wilayah. Berbagai wilayah, utamanya di Sulawesi Selatan bahkan kerap menghubungkan keturunannya atau
keberadaan kerajaannya dengan Luwu.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa Luwu merupakan akar kebudayaan yang telah berintegrasi dalam wilayah kesadaran masyarakat pendukungnya. Disadari atau tidak, keagungan dan kearifan sejarah dan kebuadayaan Luwu telah menjadi kekuatan tersendiri dalam menyerap dan mentransformasikan berbagai anasir kebudayaan dari luar yang kemudian berintegrasi dalam sebuah harmonisasi kebudayaan.

Meski demikian, kekuatan tersebut dewasa ini telah mengalami reduksi struktural. Bahkan secara horisontal, sejarah terlebih kebudayaan Luwu terus mengalami alienasi dari masyarakatnya sendiri. Kondisi ini semakin diperparah oleh adanya kecenderungan terjadinya proses politisasi sejarah dan kebudayaan. Hal ini tentunya juga akan menjadikan sejarah dan kebudayaan Luwu mengalami keterasingan dari pusat kesadaran masyarakat Luwu sendiri.

Berpijak pada kondisi di ataslah, maka Komunitas Kampung Sawerigading (KAMPUS) merasakan perlunya suatu langkah yang tepat untuk mendokumentasikan kembali serpihan-serpihan sejarah tersebut.

Hal ini selain bertujuan jangka pendek untuk mereuni memori masyarakat Sulawesi Selatan akan sejarahnya sendiri,yang pada gilirannya dapat dijadikan aset nasional dalam mengisi pembangunan dengan kerangka otonomi daerah untuk menjadi acuan konsep pemerintahan, juga berfungsi seebagai investasi intelektual bagi generasi selanjutnya. Karena bercermin pada sejarah, adalah salah satu hal yang mampu memicu proses kreatif.

Selain disebabkan alasan di atas, alasan lain yang tak kalah pentingnya adalah berhamburannya referensi tertulis dan non tertulis serta semakin hilangnya saksi-saksi sejarah. Olehnya, dengan segala kerendahan hati dan kerja keras yang hampir tak kenal lelah, KAMPUS telah berhasil menemukan formulasi yang betul-betul unik dalam upaya revitalisasi sejarah besar perdaban Sulawesi di masa lalu dalam bentuk sebuah ensiklopedi. Sebuah langkah fenomenal tentunya, di tengah sepinya referensi yang akan dapat bertutur lengkap dan padat akan nilai dari sebuah sejarah.

Buku yang hadir di hadapan dewan pembaca ini, disusun dalam bentuk ensiklopedi dengan tujuan memudahkan penelusuran jejak sejarah dengan sajian yang padat dan lugas tidak se-kaku bentuk buku pada umumnya –tentu tanpa mengurangi penghargaan terhadap rumitnya penyusunan buku sejarah pada umumnya. Buku ini telah berusaha memenuhi pengertian dasar tentang ensiklopedi sebagai karya yang menghimpun dan menyajikan berbagai data, baik yang tertulis maupun lisan tentang sejarah Luwu yang disusun secara sistemtis menurut abjad dengan memuat lebih dari 600 entri.

Meskipun demikian, buku ini tidak terlepas dari kelemahan manusia pada umumnya, dimana masih terdapat kalimat-kalimat yang tidak menggunakan tanda baca sebagaimana mestinya, yang terkadang mampu mengaburkan makna yang tersimpan di balik sebuah informasi. Hal ini
mungkin perlu dimaklumi, karena dengan keterbatasan waktu (penyusunan hanya berjalan sekitar 6 bulan), sementara begitu bertumpuk data yang mesti dihimpun dan ditata kembali, menjadi tantangan tersendiri.

Ensiklopedi ini selain memuat sejarah Luwu mulai dari diturunkannya Batara Guru hingga peristiwa kecil seperti pembuatan jalan poros Makassar-Palopo, juga memuat bioadata –baik singkat maupun panjang– tokoh-tokoh Luwu (juga daerah-daerah yang masih menjadi bagian distrik Luwu dahulu) tanpa melihat apakah tokoh tersebut adalah pejuang, pengkhianat, dan selainnya. Sebab menjadi pejuang ataupun pengkhianat, atau papaun namanya, hanyalah persoalan nilai.

Sejarah yang sejati tak akan membuat demarkasi antara dua kenyataan hidup kontras, akan tetapi lebih dari itu, persoalan sejarah adalah persoalan pergulatan niali itu sendiri. Sehingga tak heran, jika satu kurun waktu tertentu misalnya, seorang Kahar Muzakkar menjadi pemberontak, tetapi di waktu yang lain, ia begitu dielu-elukan sebagai pahlawan yang berani menentang tirani yang berkedok nasionalisme. Akhirnya, kita mungkin masih ingat, seorang filsuf dunia, Epicurus pernah menyatakan bahwa Historia Magistra Vitae (Sejarah adalah Guru kehidupan) dan kepada dewan pembaca sekalianlah, buku ini mendapatkan tempat sebagai jejak langkah tertinggal namun tak terlupakan.

Selamat Membaca!

sumber klik disini